Halaman

Selasa, 31 Juli 2012

SELAMATKAN NASIONALISME KITA



Sekali lagi jargon “ nasionalisme“ kembali dikobarkan di berbagai daerah di tanah air. Demam nasionalisme akhir akhir ini yang sedang melanda sebagian besar rakyat Indonesia diawali oleh negara tetangga kita Malaysia yang mengklaim beberapa hasil budaya asli negeri ini sebagai milik mereka untuk promosi pariwisatanya . Penulis sengaja memberi penekanan pada kata nasionalisme karena nasionalisme yang sekarang banyak didengungkan sebagian orang tersebut pengertian sangat sempit dan bahkan bertentangan dengan nasionalisme yang dicita citakan oleh pendiri bangsa ini. Nasionalisme menurut pandangan Soekarno dalam pidatonya yang berjudul Indonesia menggugat yang disampaikan di depan pengadilan kolonial Belanda pada 18 Agustus 1930 adalah “adanya rasa persamaan sebagai rakyat yang tertindas oleh penjajah kolonial dan ingin mewujudkan kemerdekaan sejati baik lahir maupun batin bagi seluruh rakyat indonesia…nasionalisme indonesia adalah nasionalisme yang positif, nasionalisme yang mencipta, nasionalisme yang anti chauvinist…”. Ernest Renan dalam bukunya What Is A Nation menyebut nasionalisme Soekarno ini sebagai kehendak untuk bersatu (le dwsire d’entre ensemble). Nasionalisme ini membentuk persepsi dan konsepsi identitas sosial kaum pergerakan di seluruh negara jajahan sebagai suatu kekuatan politik yang tidak bisa disepelekan oleh penguasa kolonial. Tujuan nasionalisme ini adalah pembebasan dari penjajahan dan menciptakan masyarakat yang adil serta tidak ada lagi penindasan. Tentu jika dilihat dalam perspektif di atas nasionalisme yang sesungguhnya tidaklah bertujuan untuk mencintai tanah air dengan kacamata kuda namun lebih dari itu yakni mewujudkan suatu tatanan masyarakat yang merdeka dari penjajahan serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.
Setelah 64 tahun negara Indonesia merdeka, tujuan dari dibentuknya negara ini sebagaimana dirumuskan dalam pembukaan UUD 45 dan pidato Soekarno di atas masih jauh dari harapan. Kelaparan, kemiskinan serta kebodohan masih menjadi bagian dari cerita keseharian rakyat Indonesia. Tentu ini ironis mengingat melimpahnya Indonesia akan Sumber daya Alam dan Sumber daya Manusia. Sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia ketertinggalan Indonesia tidak bisa dilepaskan dari bentuk penjajahan baru yang disamarkan dengan nama globalisasi. Penjajahan bentuk baru ini merupakan kelanjutan dari imperialisme tua yang dilakukan oleh negara negara maju. Jika dulu Indonesia dijajah dengan angkatan perang serta organisasi dagang klasik maka kini penjajah menindas Indonesia dalam bentuknya yang modern yaitu organisasi dagang internasional serta korporasi multinasional (J.Petras, 2000). Derasnya informasi yang masuk menyebabkan arus globalisasi seakan tidak bisa dibendung lagi di negara ini. Kepedulian sosial serta rasa nasionalisme hanya jadi jargon ketika dibutuhkan. Padahal jika kita mau belajar dari sejarah negara ini yang sebagian besar memeluk agama Islam, perjuangan mencapai kemerdekaan pada waktu lampau sebenarnya juga dipelopori oleh umat Islam lewat cara cara yang cerdas. Berdirinya organisasi modern Serikat Dagang Islam kemudian berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI) adalah awal dari perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme Belanda . Dalam tempo waktu 7 tahun saja SI mempunyai anggota sebesar 2 juta orang, Spirit yang dibawa SI adalah nilai-nilai Islam yang menentang kedzoliman kolonialisme. Sarekat Islam berhasil karena perjuangan melawan penjajahnya bersifat kerakyatan dan tidak serta merta melupakan keadaan sosiologis rakyat Indonesia. Namun alih alih belajar dari situ, sekelompok kecil umat justru melakukan aksi pemboman dan serangkaian teror untuk melawan penjajahan model baru ( baca: globalisasi) tersebut. Hasilnya sudah pasti merugikan baik bagi negara maupun umat Islam pada khususnya.
Lalu apa yang bisa dilakukan sekarang bagi kita mahasiswa yang sekarang aktif di organisasi mahasiswa ? Penulis mencatat beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan solusi. Pertama sudah saatnya mahasiswa turun dari menara gadingnya untuk kembali terjun memberi pemahaman nasionalisme yang utuh dan berdasar atas spirit islam yaitu negara yang bebas dari penjajahan dalam bentuk apapun dan menciptakan masyarakat adil makmur yg diridhoi Allah SWT. Meminjam istilah ideolog revolusi Islam Iran, Ali Syariati, kaum intelektual harus menjadi “nabi” yang membuka mata dan menunjukkan arah bagi rakyat dan bangsanya untuk bangkit melawan segala keterpurukan. Kedua sebagai bagian dari umat Islam sudah menjadi kewajiban untuk menyebarkan nilai- nilai islam sebagai rahmat semesta alam dengan dasar Tauhid, persamaan, keadilan sosial serta musyawarah dalam rangka menjalankan misi khalifahnya di muka bumi. Sebagaimana disebutkan dalam Al Quran surat Al Mumtahanah ayat 8 : Sesungguhnya Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari neegerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang berbuat adil. Ketiga kita harus bisa memfilter arus globalisasi yang buruk dengan menggunakan nilai nilai dalam islam sebagai alatnya. Jangan sampai kemajuan zaman ini justru menyebabkan kita terjebak ke dalam nihilisme. Globalisasi harus dimaknai sebagai sebuah kemajuan menuju kesempurnaan yang sejati yaitu Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 13: Kami jadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku- suku agar kamu saling mengenal. Yang palig mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa.
Semoga apa yang penulis sampaikan dalam makalah singkat ini dapat dijadikan bahan yang bisa dibincangkan bersama dalam diskusi kali ini. Terima kasih. Wassalamualaikum wr. wb
* Disampaikan pada diskusi KAMMI 1 september 2009 dengan tema islam cinta damai di UNS yang sejuk dan (masih) hijau. Penulis adalah Ketua Bidang PerguruanTinggi dan Kemahasiswaan HMI Becak UNS.

http://bempolposindo.wordpress.com/2009/09/05/selamatkan-nasionalisme-kita/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar